Tetaplah Kuat!

Aku sedih membaca ceritamu, ketika kuperhatikan tanggalnya, aku ingat itu adalah masa-masa kasmaran aku sama kamu. Masa itu memang sudah lewat, tapi kasih sayang bagiku bukanlah sesuatu yang segampang itu berlalu. Dan walaupun demikian, bukan 2 kalimat itu yang ingin aku sampaikan kali ini…

Aku mengerti dengan benar apa yang kamu alami. Empat tahun lalu aku pergi ke sebuah rumah sakit dengan maksud mengunjungi seseorang yg kukasihi, tapi aku terlambat, aku datang dengan sambutan peluk tangis orang tuanya… Sejak saat itu rumah sakit adalah tempat paling menyakitkan bagiku, aku bahkan selalu menolak jika ada teman atau saudaraku yang mengajakku berkunjung ke rumah sakit. Sampai 4 tahun kemudian, aku tahu kamu sakit dan sedang berada di rumah sakit, hanya satu pikiranku saat itu; “aku tak ingin terlambat lagi…!”. Aku tiba di rumah sakit, walau pun tanpa sepatah kata, aku bahagia masih bisa melihat senyummu hari itu, dan percayalah itu jauh lebih dari yang kuharapkan.

Jangan berpikir macam-macam ya, ini bukan ungkapan cinta, ini hanya sebuah cerita dan aku akan sangat berterimakasih kalau kamu membacanya.

Tiga tahun terakhir adalah tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku sadar pertobatan selalu bicara soal harga yang harus dibayar, dan harga menjadi ada bukan karna sesuatu yang lain, tapi ketidakikhlasan kita melepaskan sesuatu yang memang sudah semestinya kita lepaskan.

Suatu hari aku mampir ke sebuah toko buku dan entah kenapa aku teringat padamu, aku memutuskan untuk membeli sebuah buku. Sepulang dari sana aku mampir ke tempatmu, aku mendengar pembicaraan yang tak nyaman, salah seorang anggota keluargamu menganjurkan agar km berobat ke ‘orang pintar’ atau sejenisnya, yang bahkan ibumu pun menyetujuinya. Aku sedih mendengar itu, terlebih-lebih ketika aku menyadari kamu kesulitan menolak akan anjuran itu. Aku tersentak sejenak dan ketika berpamitan untuk pulang hanya satu kalimat pendek yang bisa kuucapkan; “hanya satu yang bisa menolongmu…” seraya kuserahkan buku itu.

Entah apa yang terjadi setelah itu aku tak pernah tahu, tapi aku bersyukur, kar’na aku percaya bukan kebetulan aku ke toko buku, bukan kebetulan aku teringat padamu, dan bukan kebetulan pula aku mampir ke rumahmu dan mendengar semua itu. Sekecil apapun itu bagi kita, Tuhan selalu punya rencana, itu pikirku…

Sekarang, sejalan waktu aku juga melihat dirimu yang sekarang, walaupun mungkin aku tak pernah melakukan banyak hal untukmu, aku senang, setidaknya dengan iman aku bisa meyakinkan diriku bahwa sebagian doaku telah terjawab. Vo, aku adalah anak bungsu yang pastinya tidak memiliki seorang adik, andaikata aku adalah seorang kakak, aku bangga punya adik sepertimu…

Putus asa adalah hal lumrah, dan aku sangat menghargai itu sebagai keterbatasan manusia. Aku pun mengalaminya. Aku ikut melayani Tuhan sejak kelas 2 SMP, waktu itu masih hanya bermain musik. Tapi selepas SMP, aku pindah ke kota dan tinggal di lingkungan yang sungguh jauh berbeda, aku mulai kehilangan arah, aku memang tidak merokok atau minum-minuman keras, tapi bila dalam 1 bulan ada 1 kali saja aku masuk gereja, teman-temanku akan bilang; “itu mujizat…”, begitulah saking jarangnya aku ke gereja. Aku berjuang sampai tahun ke-7 aku di kota itu, bahkan hingga tahun berikutnya aku pindah ke kota lain, aku hanya bisa menyebut diriku seorang yang GAGAL!

Pebruari 2007 aku pindah ke kota ini, dan tepat seperti yang aku tuliskan di awal, pertobatan akan selalu bicara harga yang harus dibayar. Aku meninggalkan banyak hal, materi maupun sekedar kesenangan. Aku mulai dari titik NOL.
Aku memutuskan untuk bertobat, dan ketika aku pikir semua telah berakhir, aku keliru! Sebuah cerita baru sedang dimulai. Aku harus menerima setiap rotan dan cemeti yang walaupun sakit itu adalah wujud nyata kasih dari orang-orang yang ingin melihat aku baik dan senantiasa lebih baik dari sehari kesehari. Hingga kemudian aku berangsur-angsur menyadari, aku harus senantiasa melangkah dalam jalur yang senantiasa “putih”, bukan seperti abu-abu yang tidak jelas apakah ia hitam atau putih, atau seperti papan catur yang terkadang hitam dan terkadang putih…

Sebenarnya hanya dua kata yang ingin kusampaikan lewat dua halaman coretan ini adalah “TETAPLAH KUAT”. Wanita cantik melukiskan kekuatannya lewat masalahnya, tersenyum saat tertekan, tertawa disaat harus menangis, memberkati disaat terhina, dan mempesona karena mengampuni. Wanita cantik mengasihi tanpa pamrih dan bertambah kuat didalam doa dan pengharapan…

Kuat tidak butuh alasan, kuat hanya perlu keyakinan!

One Response to Tetaplah Kuat!

  1. Boo says:

    Ciiieeeeee….untk Mrs. R ya….xixixixi

Leave a Reply