Tag Archives: Kehidupan

Aku Inginkan Kebebasan… (Part III)

Selagi sebuah kebebasan itu bisa dikatakan BERTANGGUNG JAWAB, why not…?
kita berbicara soal PACARAN dan bukan PERNIKAHAN.
Aku hidup sebagai insan SOSIAL yang menjalani hari2 bukan sebagai PENCINTA semata, tapi perlu BERIBADAH, BEKERJA, KULIAH dan INTERAKSI sosial lainnya dalam kerangka PERSAHABATAN. Bagaimana mungkin aku menyerahkan semua itu kepada seorang WANITA yang berharap aq hidup hanya untuk MENEMANI hari-harinya…

I lasted for 3 years for the hope she will change and learn to understand me, and I gave up.
Please do not judge me anymore.

Aku Inginkan Kebebasan… (Part II)

Benarkah waktu hanya seperti lukisan kecil yang terpampang di tembok sana, jika demikian bagaimana aku bisa melihat hidup dengan cara yang berbeda, menelaah cinta dari kacamata pribadi, kar’na aku yakin masing2 kita punya hati…?

Aku hanya perlu cinta yang lebih dinamis, bukan cinta yang menghujaniku dengan kata tidak ketika aku berkata aku ingin begini, aku ingin begitu, aku ingin kesini dan aku ingin kesitu…?
Aku hanya ingin kebebasan, berkarya lebih banyak, kar’na memang hal paling mempesona yang bisa kulakukan saat ini adalah menolong sesama…

Aku Inginkan Kebebasan… (Part I)

Hari ini bukan kemarin ketika kita menapak rindu di genang telaga,,
Bukan pula ketika kita menulis cinta di iota senja,
Aku lelah,,,
Bila ada cinta hari ini, simpan saja sebagai hiasan hati yang radang…
Aku lelah,,,
Bukan semua insan menginginkan cinta seperti karang rindu yang garang…

Semut dan Lalat

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar” katanya.

Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya

Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”

I Love You Mom, I Love You Dad

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah timbisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Musuh Utama

Siapakah musuh utama dalam hidup kita…?

Ketika manusia mulai pandai melebur biji besi menjadi batang besi, lalu menempa dan membentuk lempengan, kemudian mengasahnya menjadi sebilah mata kapak yang tajam; ketika itulah pohon-pohon di dunia mulai khawatir akan nasib mereka. Pohon-pohon melihat semakin hari semakin banyak kerusakan yang diperbuat oleh manusia dengan kapak-kapaknya. Berbondong-bondong manusia memanggul kapak memasuki hutan dan menebangi pohon-pohon.

Ternyata Hidup Itu Mudah

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

”Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.”

Batu dan Bisikan

Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.

Harga Sebuah Perhatian…

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.

Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur ?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.