Suamimu Juga Manusia…

Perkara menuntut itu naluriah, semua manusia dikaruniai kemampuan untuk melakukannya, tapi bagaimana memahami seorang laki2, menyelami apa yg ada di pikirannya, turut merasakan beban besar di pundaknya ketika dia merasa energinya menurun, pekerjaan menumpuk, uang menipis, dan kepalanya ada di bawah tekanan ekosistem yang disebut “keluarga” yang menuntut dinafkahi,,,
.
Apa pertanggungjawaban ‘energi luar biasa’ yang kita sebut cinta pada kondisi yang demikian…?
.
Itulah laki2 dengan ke-realistis-annya…

Tidak semua bagian kehidupan adalah soal perasaan, kadang EGO seolah memenjarakan perasaan, sehingga kita lupa bagaimana memperdulikan perasaan yang lain.
Begitu pun dengan cinta, tidak semua adalah soal kebersamaan, kadang harus berpisah untuk sedikit waktu demi karir dan kehidupan.
.
Alasan dan tujuan akan selalu sama, untuk kebaikan bersama. Tapi seperti sepasang sepatu, arti “berpasangan” tidak selalu berarti harus berdampingan untuk menciptakan 1 dan setiap langkah ke depan…

Leave a Reply